Jakarta (ANTARA) – Pemerintah telah menetapkan untuk tidak lagi memperpanjang insentif untuk mobil berbasis baterai listrik (battery electric vehicle/BEV) yang dijual di pasar domestik dengan skema impor utuh (Completely Built-Up/CBU) pada tahun 2026.
Menanggapi hal tersebut CEO GAC Indonesia, Andry Ciu mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu kejelasan terkait hal tersebut yang dikatakannya masih belum ada pergerakan lebih lanjut.
“Saat ini GAC masih menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah terkait insentif kendaraan listrik. Rasanya, saat ini seluruh pemain EV juga menantikan kejelasan tersebut sebelum ada pergerakan lebih lanjut,” kata Andry Ciu kepada ANTARA, Senin.
Selama 2025, pemerintah telah mengucurkan subsidi yang cukup banyak untuk kendaraan yang diklaim bebas emisi tersebut.
Baca juga: GAC ungkap keberhasilannya mengembangkan baterai ASSB
Subsidi tersebut di antaranya untuk bea masuk dan keringanan PPnBM dan PPN, dengan ketentuan perusahaan penerima manfaat insentif ini harus melakukan produksi dalam negeri 1:1 dari jumlah kendaraan CBU yang masuk ke pasar domestik.
Ketentuan ini dilakukan oleh Kemeperin semata-mata untuk merealisasikan produksinya secara domestik.
Sebelumnya, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin Mahardi Tunggul Wicaksono meminta produsen otomotif yang sudah menikmati insentif impor mobil listrik berbasis baterai dalam bentuk utuh untuk memenuhi kewajiban produksinya dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mulai tahun 2026.
Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027 para produsen wajib memproduksi mobil listrik di Indonesia dengan jumlah setara kuota impor CBU. Produksi ini harus menyesuaikan aturan TKDN yang sudah ditetapkan.
Baca juga: GAC umumkan uji coba produksi mobil terbangnya pada Januari 2026
“Dalam perjalanannya, perusahaan juga harus memperhatikan nilai, besaran nilai TKDN. Dari 40 persen harus secara bertahap naik menjadi 60 persen besaran nilai TKDN,” ujar dia beberapa waktu lalu.
Untuk urusan tersebut, GAC Indonesia, merasa percaya diri karena telah mengabulkan apa yang pemerintah cita-citakan yakni membangun dan memproduksi kendaraan di Indonesia dengan TKDN yang sudah disepakati.
“Namun kami cukup tenang, karena seluruh produk GAC di Indonesia sudah dirakit secara CKD di pabrik Indomobil Cikampek dengan TKDN di atas 40 persen,” tutur dia.
Di Indonesia, GAC AION telah menawarkan beberapa modelnya seperti Aion Y Plus, Aion V, Aion Hyptec HT dan juga Aion UT.
Jika melihat langsung ke halaman resmi perusahaan, kendaraan dari AION ini masih memiliki harga yang sama atau belum ada kenaikan harga hingga saat ini.
Baca juga: GAC luncurkan produksi AION V di Eropa dengan Magna
Baca juga: Aion i60 hadir dengan teknologi terbaru dari GAC
Baca juga: GAC raih sertifikat Guinness World Record berkat Hyptec SSR
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026











